adaAPAdenganMERTUA?

 

Kebetulan pagi ini buka eramuslim. Nyari artikel yang bisa dibaca, buat nambah pengetahuan. Eh dapet lumayan bagus kisah seorang suami di rubrik ‘Oase Iman’. Jadi pengen buru-buru punya mertua… :)


Oleh Sus Woyo

Sejak saya menikah, hingga anak saya berumur tiga bulan,
saya hidup serumah dengan mertua. Hampir setahun saya mengarungi kehidupan
serumah dengan orang tua asli isteri saya. Suka dan duka, pahit dan manis,
tentu menjadi lauk pauk yang pernah saya lahap ketika itu.

Menjelang satu tahun pernikahan saya, saya berusaha sekuat
tenaga untuk mencari rumah baru. Artinya saya mencoba untuk lepas dari rumah
mertua saya. Dengan niat: Ingin lebih mandiri. Saya berhasil membeli sedikit
tanah yang sudah ada rumahnya. Walaupun uang yang untuk membeli bukan murni
dari kocek saya. Termasuk ada di dalamnya adalah uang pinjaman dari orang tua
saya.

Sejak itu, saya pindah dari rumah mertua dan menempati rumah
saya yang baru. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Anak
dan isteri saya selalu sakit, selama menempati rumah itu. Batuk, seolah tak
pernah berhenti menyerang anak dan isteri saya. Mungkin karena temperatur
daerah itu yang sangat dingin bagi ukuran anak dan isteri saya.

Apa boleh buat, ahirnya rumah itu saya jual. Saya
beranggapan rumah itu tak layak huni bagi kesehatan keluarga saya. Saya dan
keluarga kembali ke rumah mertua. Saya kembali hidup serumah dengan bapak ibu
isteri, adik dan kakaknya.

Seiring dengan dijualnya rumah kami, usaha saya juga tak
menampakkan ada peningkatan. Apa-apa serba mahal. Modal yang ditanam tak
sebanding dengan keuntungan yang saya peroleh. Sampai uang hasil menjual rumah
saja nyaris habis tanpa bekas. Tak bisa saya gunakan kembali untuk membangun
rumah baru.

Saya kembali belajar untuk hidup serumah dengan mertua. Teman-teman
saya selalu mengatakan. “Kamu terlalu kuat untuk hidup dengan mertua. Apa
resepnya?” Saya tersenyum saja ditodong dengan pertanyaan semacam itu.

Mertua, bagi sebagian orang adalah sosok yang menakutkan.
Momok besar bagi mereka yang terpaksa harus hidup serumah dengannya. Atau
bahkan ada sebagian teman saya yang mengatakan, bahwa mertua adalah pembunuh
kebebasan. Alasan teman saya karena katanya ia akan serba tidak bebas jika akan
berlaku seenaknya di rumah mertua. Seperti pagi masih duduk di rumah sambil
nonton TV, tidur di siang bolong saat orang lain sedang ada di tempat kerja dan
sebagainya.

Saya tidak seratus prosen menyalahkan argumentasi teman saya
itu. Tapi juga tidak mendukung seratus prosen atas apa yang ia katakan. Sebab
tinggal dari sudut mana kita memandang mertua.Yang jelas hidup serumah dengan
mertua itu harus mempunyai batas-batas tertentu. Tak hanya dengan mertua, hidup
dengan siapapun sudah pasti harus ada batas-batas tertentu yang harus kita
terapkan.

Namun demikian, saya mempunyai resep tersendiri, kenapa saya
tahan lama hidup serumah dengan mertua, padahal ada adik dan juga kakak isteri
saya yang masih ada di rumah itu.

Yang pertama karena saya belum mampu lagi untuk secepatnya
mencari rumah baru. Dengan kondisi seperti itu, akhirnya mau tidak mau saya harus
serumah dengannya.

Saya mencoba belajar, bahwa orang tua isteri saya adalah
orang tua saya juga. Dan bukan orang lain. Adik dan kakak isteri saya adalah
adik dan kakak saya juga. Merekapun bukan orang lain.

Dan setelah menerapkan prinsip itu ternyata persaudaraan
menjadi lebih erat. Sebab antara kami dan mereka bukanlah siapa-siapa. Toh
setelah menikah, ”birrul walaidain” kita tak hanya sebatas kepada bapak dan ibu
kita yang asli saja, tapi harus juga kepada orang tua isteri kita.

Dengan resep itulah, saya bisa menganggap bahwa mertua
adalah orang tua saya. Mertua adalah bukanlah sosok yang menakutkan selama
perbuatan kita tidak keterlaluan. Dan yang lebih penting mertua adalah figur
yang tidak boleh kita bedakan dalam hal berbakti padanya, selama masih dalam
koridor syari’atNya. Termasuk hormat kita padanya adalah sama seperti hormat
kita kepada orang tua asli kita.

***

Baturraden, Purwokerto, Juli 06 <woyo_sus@yahoo.co.id>

Leave a Reply